Bisakah GERD Disembuhkan? Dokter Menjelaskan Pentingnya Perubahan Gaya Hidup dan Pengobatan yang Lengkap

Bisakah GERD Disembuhkan? Dokter Menjelaskan Pentingnya Perubahan Gaya Hidup dan Pengobatan yang Lengkap

Bisakah GERD Disembuhkan? Dokter Menjelaskan Pentingnya Perubahan Gaya Hidup dan Pengobatan yang Lengkap

Slot online terpercaya – Penyakit refluks gastroesofageal (GERD) adalah gangguan pada sistem pencernaan yang terjadi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan. Kondisi ini sering menyebabkan sensasi panas di dada (heartburn), heartburn, hingga rasa asam di mulut.
Jika dibiarkan berlanjut, GERD dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan berisiko memicu komplikasi pada saluran pencernaan.

Profesor Ilmu Penyakit Dalam, Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan dokter di RSCM, Prof. Dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, mengatakan bahwa GERD dapat membaik secara signifikan jika faktor risiko yang memicu penyakit dikendalikan dan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas.

“GERD dapat disembuhkan jika faktor risiko dikurangi dan pengobatan diselesaikan,” kata Ari dalam diskusi kesehatan tentang GERD seperti dikutip ANTARA. Ia menjelaskan bahwa pengobatan GERD tidak hanya berfokus pada obat-obatan, tetapi juga perubahan gaya hidup. Beberapa kebiasaan yang perlu diperbaiki termasuk berhenti merokok, menghindari.

Konsumsi alkohol, penurunan berat badan, dan penerapan diet rendah lemak. “Jika dia merokok, dia harus berhenti, jika dia minum alkohol, dia juga harus berhenti. Berat badan harus dikurangi, lalu diet rendah lemak harus diikuti.

Jadi gaya hidup harus ditingkatkan,” katanya.
Menurut Ari, perubahan gaya hidup ini perlu didukung oleh olahraga teratur, waktu tidur yang cukup, dan keterampilan manajemen stres. Langkah-langkah ini dapat membantu mengurangi frekuensi dan keparahan gejala GERD.

Berdasarkan penelitian yang dia lakukan, penderita GERD umumnya adalah pria di atas 40 tahun yang memiliki kebiasaan merokok dan obesitas.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kasus GERD juga mulai ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda, bahkan anak-anak. Hal ini sering dikaitkan dengan pola makan yang tidak sehat dan kebiasaan tertentu sejak masa kanak-kanak.

“Konsumsi berlebihan cokelat dan keju sejak masa kanak-kanak, lalu kebiasaan makan langsung sebelum tidur, dapat memicu GERD pada anak-anak,” kata Ari. Ia juga menyoroti berkurangnya aktivitas fisik pada anak-anak akibat penggunaan gadget yang berlebihan. Penggunaan gadget.

Kondisi ini membuat anak-anak kurang bergerak, sehingga berpotensi meningkatkan risiko gangguan pencernaan. “Sekarang anak-anak juga kurang aktif karena gadget. Jadi penggunaan gadget perlu dikurangi, mereka harus lebih sering bermain dan aktif,” katanya.

Untuk mengonfirmasi diagnosis, dokter biasanya melakukan endoskopi untuk melihat kondisi kerongkongan dan lambung secara langsung. Pemeriksaan ini membantu menilai tingkat kerusakan yang disebabkan oleh asam lambung serta melihat kondisi katup lambung yang berfungsi menahan asam agar tidak naik ke kerongkongan.
Ari menyarankan agar seseorang segera berkonsultasi dengan dokter jika mengalami keluhan seperti nyeri dada, rasa panas di dada, heartburn, atau muntah berulang.

Selain membantu menetapkan diagnosis GERD, pemeriksaan endoskopi juga dapat mendeteksi kemungkinan komplikasi yang lebih serius, termasuk kerusakan jaringan yang berisiko berkembang menjadi kanker jika tidak diobati. Di saya Dalam pengobatan GERD, pasien biasanya diberikan obat penekan asam yang harus dikonsumsi sesuai anjuran hingga terapi selesai. Saat ini, terapi baru dari kelompok penghambat asam kompetitif kalium (P-CAB) seperti vonoprazan, tegoprazan, dan fexuprazan juga tersedia, yang dianggap sebagai alternatif bagi pasien yang tidak merespons pengobatan sebelumnya.

“Sekarang kita telah memasuki era P-CAB. Sekitar 20 persen pasien yang menggunakan obat sebelumnya tidak mendapatkan hasil optimal, jadi obat ini merupakan terobosan untuk GERD,” kata Ari. Selain pengobatan medis, ia menambahkan bahwa penyesuaian pola makan juga penting untuk membantu mengontrol gejala GERD, termasuk menjaga asupan protein dan menerapkan pola makan teratur seperti puasa intermittent.

Versi bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Arab, dan Prancis dihasilkan secara otomatis oleh AI. Oleh karena itu, mungkin masih ada ketidakakuratan dalam terjemahan, harap selalu merujuk pada bahasa Indonesia sebagai bahasa utama kami. (sistem didukung oleh DigitalSib) er.