5 Dampak Ekonomi Konflik Israel-Iran terhadap Indonesia
Liga335 – TEMPO.CO, Jakarta – Eskalasi konflik pasca serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah memicu kekhawatiran akan potensi dampaknya terhadap perekonomian global maupun Indonesia. Kekhawatiran ini semakin meningkat karena perang tersebut telah memicu lonjakan harga minyak dunia.
Susiwijono Moegiarso, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, menjelaskan bahwa Indonesia kemungkinan tidak akan mengalami dampak langsung, karena pasokan minyak mentah dan bahan bakar Indonesia berasal dari berbagai wilayah, bukan hanya dari Timur Tengah.
Ia menyatakan, “Jika kita lihat, nilai perdagangan Indonesia dengan Timur Tengah tidak terlalu tinggi. Bahkan jika mempertimbangkan Timur Tengah secara keseluruhan, kita masih mempertahankan surplus,” dalam forum diskusi yang diselenggarakan oleh UOB Indonesia di Jakarta Selatan pada Senin, 2 Maret 2026.
Namun demikian, Susiwijono mengakui bahwa Indonesia tetap dapat terpengaruh oleh gangguan dalam rantai pasokan global. Menurut presentasinya, setidaknya ada lima risiko yang dapat dihadapi perekonomian domestik jika Perang terus memanas.
1. Kenaikan Biaya Impor Energi
Gangguan rantai pasokan yang terus berlanjut akan mendorong kenaikan harga minyak. Anggaran negara tahun 2026 mengasumsikan proyeksi harga minyak sebesar US$70 per barel, namun harga tersebut telah melampaui US$80 per barel.
Setiap kenaikan US$1 dalam Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP), subsidi kompensasi energi akan membutuhkan tambahan Rp10,3 triliun.
Kenaikan US$1 per barel juga dapat meningkatkan pendapatan anggaran negara sekitar Rp3,6 triliun, namun anggaran tetap akan menghadapi defisit sekitar Rp6,7 triliun.
2. Tekanan Inflasi
Kenaikan harga minyak tidak hanya akan memengaruhi biaya energi tetapi juga perekonomian global secara luas, yang menyebabkan kenaikan harga di berbagai sektor. Hal ini, pada gilirannya, mendorong inflasi di Indonesia, karena lonjakan harga meluas melampaui sektor energi hingga mencakup bahan baku impor yang krusial bagi industri nasional.
3. Pengetatan Moneter
Jika inflasi meningkat, bank sentral mungkin akan menaikkan suku bunga, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi. Suku bunga yang lebih tinggi Suku bunga yang tinggi membuat biaya pinjaman menjadi lebih mahal, sehingga mendorong perusahaan untuk menunda rencana ekspansi dan mempersulit masyarakat umum untuk mengakses pinjaman.
4. Investor Beralih ke Aset Aman
Di tengah ketidakpastian ekonomi yang disebabkan oleh konflik geopolitik, investor cenderung mencari aset safe-haven untuk memitigasi risiko. Pergeseran ini dapat menimbulkan tekanan pada pasar saham dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
5. Melemahnya Rupiah
Tekanan pada CSPI akibat arus keluar modal dapat melemahkan rupiah. Ketika investor asing menarik dana jangka pendek, permintaan terhadap dolar AS meningkat, yang menyebabkan depresiasi rupiah.