NUSA TENGGARA BARAT (liga335) — Alam seakan berbicara dengan caranya sendiri. Ketika Gunung Rinjani dan Gunung Tambora menunjukkan peningkatan aktivitas, manusia kembali diingatkan bahwa ada kalanya bumi meminta jeda. Bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dipahami dan dihormati.
Di kaki Rinjani dan Tambora, masyarakat mulai menata ulang ritme kehidupan. Aktivitas pendakian dibatasi, jalur ditutup sementara, dan imbauan kewaspadaan disampaikan berulang kali. Bagi warga setempat, ini bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan bagian dari hidup berdampingan dengan gunung yang selama ratusan tahun memberi kehidupan.
“Kalau gunung sedang ‘bernapas’, kami belajar untuk menunggu,” ujar seorang warga di Lombok Timur.
Gunung sebagai Penjaga, Bukan Ancaman
Rinjani dan Tambora bukan sekadar destinasi wisata atau objek penelitian geologi. Bagi masyarakat sekitar, keduanya adalah penjaga air, sumber tanah subur, dan penopang kehidupan. Namun, seperti makhluk hidup lainnya, gunung juga memiliki siklus.
Saat aktivitas vulkanik meningkat, gunung seolah meminta ruang. Jeda ini menjadi waktu bagi manusia untuk menepi, mengamati, dan bersikap rendah hati.
“Gunung tidak marah. Ia hanya sedang bekerja,” kata seorang tokoh adat setempat.
Dampak pada Warga dan Pariwisata
Penutupan jalur pendakian Rinjani dan pembatasan aktivitas di sekitar Tambora berdampak langsung pada sektor pariwisata. Pemandu, porter, pedagang kecil, hingga pengelola homestay merasakan penurunan aktivitas.
Namun, di balik itu, muncul kesadaran bersama bahwa keselamatan lebih utama daripada kunjungan. Banyak pelaku wisata memilih beralih sementara ke aktivitas lain, sambil menunggu kondisi kembali aman.
“Kami kehilangan penghasilan sementara, tapi kami tidak ingin kehilangan nyawa,” ujar seorang pemandu gunung.
Sains dan Kearifan Lokal Bertemu
Pemantauan aktivitas gunung dilakukan dengan peralatan modern. Data seismik, visual, dan gas vulkanik menjadi dasar rekomendasi status dan imbauan. Namun, di desa-desa sekitar, kearifan lokal juga tetap hidup.
Tanda-tanda alam, perilaku hewan, hingga perubahan angin sering menjadi bahan obrolan warga. Meski tidak menggantikan sains, kearifan ini menjadi pelengkap dalam memahami alam.
“Ilmu modern dan adat seharusnya berjalan bersama,” kata seorang pengamat kebencanaan.
Belajar Menepi, Belajar Menghormati
Di tengah dunia yang bergerak cepat, jeda sering dianggap kerugian. Namun, dari Rinjani dan Tambora, manusia belajar bahwa jeda adalah bagian dari keseimbangan.
Menepi sejenak bukan berarti kalah. Justru di situlah manusia diajak untuk kembali menata hubungan dengan alam — bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai bagian kecil dari ekosistem yang lebih besar.
Harapan Setelah Jeda
Masyarakat berharap aktivitas gunung kembali stabil dan kehidupan bisa berjalan normal. Namun, lebih dari itu, mereka berharap kesadaran akan pentingnya hidup selaras dengan alam tetap terjaga, bahkan setelah status gunung kembali aman.
“Kalau nanti dibuka lagi, semoga semua lebih bijak,” ujar seorang warga sambil memandang puncak Rinjani yang tertutup awan.
Saat Gunung Rinjani dan Gunung Tambora meminta jeda, manusia diajak untuk mendengar. Bukan dengan rasa takut, tetapi dengan rasa hormat. Karena dari jeda itu, sering kali lahir pelajaran paling berharga tentang hidup, alam, dan kebersamaan.