Pertumbuhan Ekonomi Indonesia sebesar 5% menjadi acuan bagi ASEAN, kata Menteri.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia sebesar 5% menjadi acuan bagi ASEAN, kata Menteri.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia sebesar 5% menjadi acuan bagi ASEAN, kata Menteri.

Slot online terpercaya – TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa Indonesia dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi stabil sebesar 5 persen. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 5,12 persen pada kuartal kedua tahun 2025.

Airlangga menyatakan bahwa kondisi ekonomi ini menjadikan Indonesia sebagai negara terdepan di kawasan Asia Tenggara. Ia mengatakan, “Tidak ada negara lain yang secara konsisten tumbuh sebesar 5 persen. Pemimpin ASEAN selalu melihat ke Indonesia.

Indonesia menjadi acuan,” dalam wawancara di kantornya di Jakarta pada Sabtu, 23 Agustus 2025. Airlangga sebelumnya menyebutkan bahwa ekonomi Indonesia saat ini hanya kalah dari China, yang tumbuh sebesar 5,2 persen. Sementara itu, negara-negara ASEAN seperti Malaysia dan Singapura mengalami pertumbuhan sebesar 4,50 persen dan 4,30 persen, masing-masing.

Angka-angka ini lebih tinggi daripada Amerika Serikat, yang hanya tumbuh sebesar 2,00 persen. Ia juga membantah tuduhan manipulasi data pertumbuhan ekonomi sebagai respons terhadap keraguan dari berbagai pihak. Pihak-pihak terkait menanggapi data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,12 persen pada kuartal kedua tahun 2025.

Selain itu, Airlangga juga menyebutkan bahwa realisasi investasi Indonesia mencapai Rp942,9 triliun pada semester pertama tahun 2025. Menurut Airlangga, kondisi ini juga berbanding lurus dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang rendah. Selain itu, Airlangga menyatakan bahwa Indonesia saat ini sedang menjajaki kemungkinan bergabung dengan Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP).

Ia menyebutkan bahwa forum ini dapat membuka akses ekspor Indonesia ke Meksiko, terutama produk otomotif. “Meksiko memberikan kuota, dan kuotanya sangat kecil, hanya 70.000.

Sedangkan ekspor otomotif kita bisa lebih besar, melebihi 400.000. Namun, berbagai negara memasang hambatan, dan inilah yang perlu kita selesaikan,” ujarnya.