Para ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mendesak dilakukannya reformasi ekonomi dan demokrasi dalam pemerintahan baru Indonesia.
Liga335 – Ekonom UGM Dr. Dumairy menyatakan bahwa masih terlalu dini untuk menilai secara subjektif kinerja ekonomi Kabinet Merah Putih, karena tidak semua program kabinet saat ini merupakan inisiatif baru. Beberapa program yang sedang berjalan diwarisi dari kabinet sebelumnya, Kabinet Indonesia Maju 2019-2024.
“Tidak mudah (untuk melaksanakan program yang diwarisi) karena tidak semuanya merupakan inisiatif Prabowo-Gibran,” katanya dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Ekonomi Rakyat UGM berjudul ‘Prediksi Masa Depan Demokrasi Ekonomi dan Politik di Pemerintahan Baru’ di Gedung Pusat Antaruniversitas (PAU) UGM, Sekolah Pascasarjana UGM, Jumat, 31 Januari 2025.
Target pembangunan ekonomi tahun 2025 diharapkan dapat mengurangi kemiskinan ekstrem. Tingkat pengangguran juga ditargetkan untuk menurun sementara indeks modal manusia meningkat.
Dr. Dumairy meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan yang adil harus menyertai target-target pembangunan ini agar dapat tercapai. “ Prioritas pembangunan ekonomi harus dipadukan dengan pertumbuhan ekonomi.
Namun, situasi saat ini menunjukkan bahwa prioritas pertumbuhan kurang konstitusional,” kata Dr. Dumairy. Ia menyarankan agar pembangunan ekonomi Indonesia menekankan prinsip-prinsip nasionalisme, dengan pemerintah mampu mengorganisasi ulang kendali atas sumber daya ekonomi seperti pertambangan dan tanah.
Selain itu, skema pengolahan hilir dapat dibuat lebih inklusif sehingga masyarakat juga dapat menikmati hasilnya. “Masyarakat harus merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Sosiolog politik UGM Dr.
Arie Sujito menyoroti bahwa pemerintah belum serius menangani kinerja BPJS Kesehatan, asuransi kesehatan nasional Indonesia. Oleh karena itu, reformasi sistem layanan kesehatan diperlukan untuk mengatasi ketidakadilan dalam klaim dan memastikan pengelolaan yang lebih efisien. “Tidak boleh ada ketidakadilan dalam sistem kesehatan,” ia tekankan.
Selain itu, Dr. Sujito menyoroti bahwa biaya pendidikan yang tinggi membuatnya sulit bagi Masyarakat umum dapat mengaksesnya, sementara alokasi anggaran yang tidak memadai hanya memperburuk situasi pengembangan sumber daya manusia di negara ini. Perguruan tinggi, sebagai lembaga pendidikan, seharusnya fokus pada peningkatan kualitas pendidikan daripada terlibat dalam proyek-proyek yang dapat menimbulkan konflik kepentingan, seperti keterlibatan dalam aktivitas pertambangan.
“Demokratisasi yang berlebihan dalam pendidikan dapat memicu persaingan antar kampus dalam hal pertambangan, yang berpotensi menimbulkan masalah di masa depan,” katanya.
Namun, Dr. Sujito tetap optimis bahwa situasi ini dapat dikelola jika masyarakat, terutama mahasiswa, bersatu untuk mendorong perubahan.
Jika orang menjadi puas dengan kondisi saat ini, transformasi ekonomi dan demokrasi politik akan sulit dicapai. Sebaliknya, gerakan mahasiswa yang kuat dapat mendorong transformasi demokrasi, seperti saat mahasiswa berdemonstrasi untuk menuntut pembatalan pajak pertambahan nilai (PPN) 12%. “Saya yakin mahasiswa dapat menjadi agen potensial dalam mendukung transformasi demokrasi,” “Pembentukan,” katanya menyimpulkan.