Nadiem: Kalau Tujuan untuk Memperkaya Diri, Saya Akan Tetap Berbisnis

Jakarta (initogel) — Kalimat itu meluncur tenang, tanpa nada tinggi, namun menggema luas. Nadiem Makarim menyampaikan sebuah pernyataan yang lebih menyerupai refleksi pribadi ketimbang pembelaan diri: “Kalau tujuan saya untuk memperkaya diri, saya akan tetap berbisnis.”

Di tengah sorotan publik dan dinamika kebijakan pendidikan, pernyataan tersebut menjadi penanda sikap—tentang pilihan hidup, tentang pengabdian, dan tentang makna jabatan publik di mata seorang mantan pengusaha.

Dari Dunia Bisnis ke Ruang Pengabdian

Nadiem dikenal luas sebagai figur yang datang ke pemerintahan dari dunia usaha. Latar belakangnya sebagai entrepreneur kerap menjadi rujukan—baik oleh pendukung maupun pengkritik. Namun pernyataannya kali ini menggarisbawahi satu hal: keputusan meninggalkan kenyamanan bisnis adalah pilihan sadar, bukan langkah pragmatis.

“Bisnis memberi banyak hal,” ujar seorang kolega lama. “Tapi pelayanan publik memberi makna yang berbeda.”

Dalam konteks itu, kalimat Nadiem dibaca sebagai penegasan motif: bahwa jabatan publik bukanlah jalan pintas untuk keuntungan personal.

Etika Publik dan Pilihan Hidup

Di tengah meningkatnya tuntutan transparansi dan akuntabilitas, publik semakin sensitif terhadap motif pejabat. Pernyataan Nadiem menyentuh wilayah etika—tentang mengapa seseorang memilih berada di pemerintahan, dengan segala tekanan dan kritik yang menyertainya.

“Kalau tujuannya uang, jalannya jelas bukan ini,” kata seorang pengamat kebijakan publik. “Pernyataan itu masuk akal secara logika.”

Kalimat tersebut juga mengingatkan bahwa dunia pelayanan publik menuntut pengorbanan—waktu, privasi, bahkan reputasi—yang tidak selalu sebanding dengan imbalan materi.

Tekanan, Kritik, dan Keteguhan

Menakhodai kebijakan pendidikan di negara besar seperti Indonesia bukan perkara ringan. Setiap kebijakan menyentuh jutaan siswa, guru, dan keluarga. Kritik datang dari berbagai arah—sebagian membangun, sebagian tajam.

Dalam lanskap itu, pernyataan Nadiem mencerminkan keteguhan personal. Bukan untuk membungkam kritik, melainkan untuk menjelaskan posisi: mengapa ia bertahan di ruang yang penuh tuntutan ini.

“Kalau seseorang masih bertahan meski diserang, biasanya karena dia percaya pada tujuannya,” ujar seorang pendidik.

Makna Kepemimpinan yang Melayani

Bagi banyak orang, kepemimpinan publik bukan soal sempurna atau tidak, melainkan soal niat dan konsistensi. Pernyataan Nadiem mengajak publik melihat sisi manusiawi seorang pejabat—bahwa di balik kebijakan, ada pilihan hidup yang tidak selalu mudah.

Seorang guru di daerah mengatakan, “Kami tidak menuntut pejabat jadi malaikat. Tapi kami ingin mereka tulus.”

Antara Kepentingan Pribadi dan Amanah

Kalimat tentang “tetap berbisnis” juga menyinggung dikotomi yang sering muncul: kepentingan pribadi versus amanah publik. Dalam pernyataan itu, Nadiem menarik garis tegas—bahwa keduanya tidak ia campuradukkan.

Pesan ini penting di tengah iklim publik yang kerap sinis. Ia menjadi pengingat bahwa tidak semua orang masuk pemerintahan demi keuntungan pribadi, meski publik berhak terus mengawasi.

Refleksi untuk Ruang Publik

Lebih luas, pernyataan ini memantik refleksi tentang bagaimana kita menilai pejabat. Apakah semata dari hasil kebijakan? Dari niat? Atau dari kesediaan mereka menerima risiko pengabdian?

“Motif memang tak bisa diukur,” kata seorang sosiolog. “Tapi pernyataan seperti ini memberi konteks.”

Di Antara Ideal dan Kenyataan

Pernyataan Nadiem tidak menghapus perdebatan. Kritik tetap sah, evaluasi tetap perlu. Namun di tengah hiruk pikuk opini, kalimat itu memberi jeda—mengajak publik melihat satu sisi yang sering luput: bahwa memilih melayani publik adalah pilihan sadar yang tidak selalu menguntungkan secara materi.

Pada akhirnya, kalimat tersebut bukan sekadar pembelaan diri. Ia adalah pengingat tentang alasan seseorang bertahan di tengah tekanan: karena percaya pada tujuan yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Dan di ruang publik yang kerap riuh, kejujuran tentang motif—meski sederhana—sering kali menjadi napas yang menenangkan.