Kucing-kucing milik anggota DPR Indonesia telah menjadi simbol tak terduga dari aksi protes
Liga335 daftar – Selama aksi unjuk rasa besar-besaran baru-baru ini di Indonesia, rumah-rumah politisi di Jakarta yang dijarah mengungkap korban tak terduga: kucing-kucing yang dilaporkan ditinggalkan atau dicuri saat pemiliknya melarikan diri demi keselamatan.
Kucing-kucing tersebut menjadi viral di media sosial. Pemilik mereka yang merupakan politisi — selebriti yang beralih menjadi anggota DPR, Uya Kuya dan Eko Patrio dari Partai Amanat Nasional (PAN) — dituduh telah “meninggalkan” hewan peliharaan mereka.
Ini adalah tuduhan yang mereka tolak, dengan alasan mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengambilnya sebelum melarikan diri dari para penjarah.
Di mana pun kebenarannya, gambar-gambar kucing-kucing ketakutan yang diselamatkan oleh warga yang peduli telah menyentuh hati masyarakat Indonesia yang sangat menyukai kucing.
Para demonstran dan netizen dengan cepat memandang insiden ini sebagai simbol pengkhianatan politisi terhadap kewajiban mereka terhadap kelompok paling rentan di masyarakat.
Memuat konten Instagram
Hewan peliharaan adalah isu politik
Kucing sangat populer di Indonesia, yang memiliki tingkat kepemilikan kucing tertinggi di kawasan Asia-Pasifik.
Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk Muslim, dan status tinggi kucing di Dalam Islam mungkin dapat menjelaskan mengapa kucing begitu populer di sana.
Di luar makna budaya kucing, bagaimanapun, insiden-insiden baru-baru ini juga memberikan wawasan tentang sifat pembentukan citra politik di Indonesia.
Suara-suara di Indonesia yang tak bisa lagi diabaikan: pemerintah Indonesia tidak memiliki oposisi yang kuat atau sistem checks and balances yang efektif. Hal ini memungkinkan politisi bertindak demi kepentingan pribadi mereka, memperdalam jurang pemisah antara elit penguasa dan warga biasa.
Fenomena politisi yang menggunakan kucing dan hewan lain untuk meningkatkan popularitas mereka tentu saja bukan hal baru, dan juga bukan hal yang unik di Indonesia.
Mulai dari kucing masa perang Winston Churchill, Nelson, hingga kucing Bill Clinton, Socks, atau “pemburu tikus utama” Downing Street, Larry, para politisi telah lama menggunakan kucing peliharaan untuk dengan cermat mengkurasi citra publik mereka sebagai sosok yang hangat, ramah, mudah didekati, dan manusiawi.
Contoh utama dari Indonesia adalah Presiden Prabowo Subianto dan kucing tabby peliharaannya yang diselamatkan, Bobby Kertanegara.
Bobby memiliki hampir 1 juta pengikut di Instagram.
Ima Gambar-gambar Prabowo yang sedang memberi makan, bermain, dan memeluk kucingnya itu membantu mengubah citra publik mantan jenderal militer tersebut menjelang pemilihan presiden tahun lalu. Ia berubah dari sosok “orang kuat” dengan rekam jejak hak asasi manusia yang dipertanyakan menjadi seorang kakek yang ramah, manis, dan penyayang binatang.
Kini, “kucing pertama” Indonesia, Bobby, dibawa berkeliling dengan kereta dorong hewan peliharaan mewah dan memiliki tim pengamanan sendiri.
Ia tampil di acara-acara kenegaraan di mana ia menerima hadiah dari para pemimpin asing. Ini termasuk syal khusus yang baru-baru ini diterima Bobby dari Perdana Menteri Australia Anthony Albanese.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan mantan Gubernur Jakarta serta calon presiden 2024 Anies Baswedan juga telah memanfaatkan hewan peliharaan mereka untuk memperkuat citra publik mereka di Indonesia.
Memuat.
Protes baru-baru ini
Protes baru-baru ini di Jakarta dipicu oleh usulan kenaikan tunjangan anggota parlemen, tetapi juga oleh ketidakpuasan umum terhadap kelas politik.
Kemarahan semakin memuncak akibat liputan tentang gaya hidup mewah para politisi, seperti. Banyak warga Indonesia yang kesulitan menghadapi tingginya biaya hidup dan tingkat pengangguran di kalangan pemuda.
Selama aksi protes baru-baru ini, rumah beberapa politisi ternama dijarah.
Kuya dan Patrio dilaporkan meninggalkan kucing-kucing mereka, yang sebagian di antaranya diambil oleh para penjarah atau diselamatkan oleh warga yang peduli.
Meskipun banyak klaim ini dibantah oleh para politisi, komentar di postingan viral tersebut mempertanyakan: jika politisi tidak bisa bertanggung jawab atas hewan peliharaan mereka sendiri, bagaimana mereka bisa dipercaya untuk mengurus warga yang seharusnya mereka wakili?
Pencitraan politik
Perhatian media sosial terhadap kucing-kucing ini segera memicu tanggapan dari pemiliknya.
Baik Kuya maupun Patrio membantah klaim bahwa kucing-kucing tersebut “ditinggalkan”. Mereka berargumen bahwa tidak ada kesempatan untuk membawa kucing-kucing tersebut ketika rumah mereka menjadi sasaran penjarahan, dan hewan-hewan itu melarikan diri sendiri.
Krisis kucing liar di Jakarta Di kota dengan hingga 1,5 juta kucing liar, para dokter hewan di Jakarta berselisih pendapat tentang cara mengatasi krisis ini, namun beberapa di antaranya diam-diam mengambil tindakan sendiri.
Keduanya telah meminta agar hewan peliharaan mereka dikembalikan, yang mendapat dukungan dari para netizen.
Namun, kerusakan reputasi para politisi tersebut sudah tak terelakkan.
Di era media sosial, hewan peliharaan terbukti menjadi pedang bermata dua.
Dulu digunakan untuk melunakkan citra politisi dan menggalang dukungan publik, kucing-kucing ini kini terseret ke dalam narasi yang menggambarkan politisi sebagai sosok yang tidak peduli dan tidak peka. Mereka telah menjadi metafora bagi apa yang dianggap oleh sebagian orang sebagai pengkhianatan elit terhadap rakyat.
Insiden-insiden terkait kucing ini juga mengungkap sifat rapuh dari pembentukan citra politik di era media sosial.
Dulu media sosial memungkinkan hewan peliharaan politik digunakan untuk memicu kekaguman publik, kini media sosial telah menjadi sarana bagi reaksi balik.
Artikel ini pertama kali dimuat di The Conversation.
Ken M.P. Setiawan adalah dosen senior dalam Studi Indonesia di Universitas Melbourne, Charlotte Setijadi adalah dosen dalam Studi Asia di Universitas Melbourne a Elisabeth Kramer adalah dosen senior Scientia di bidang ilmu politik dan kebijakan publik di UNSW.