Indonesia membangun pusat penelitian rumput laut di Teluk Ekas, Lombok Timur.
Liga335 daftar – Indonesia membangun pusat penelitian rumput laut di Teluk Ekas, Lombok Timur Berita terkait: Indonesia membangun pusat penelitian rumput laut global di Lombok Timur
Berita terkait: BRIN mengembangkan inovasi bioindustri dari rumput laut Mataram, Nusa Tenggara Barat (ANTARA) – Pada pagi yang tenang di Teluk Ekas, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, barisan rumput laut yang panjang memecah permukaan air yang jernih. Perahu-perahu kecil bergerak perlahan melintasi teluk sementara petani memeriksa bibit rumput laut yang digantung di bawah permukaan air. Bagi penduduk setempat, pemandangan ini sudah familiar.
Namun, tahun 2026 menandai babak baru saat pemerintah Indonesia mulai mengembangkan pusat penelitian rumput laut internasional, langkah yang diharapkan dapat memperkuat ekonomi pesisir Nusa Tenggara Barat dan mendukung industri rumput laut global.Indonesia telah memulai pembangunan Pusat Penelitian Rumput Laut Tropis Internasional, yang dirancang sebagai pusat kolaborasi global. Kabupaten Lombok Timur dipilih karena ketergantungannya yang lama pada sumber daya laut.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Stella Christie mengatakan Indonesia menyumbang sekitar 75 persen dari pasar rumput laut tropis global. Nilai ekonomi global industri rumput laut mencapai sekitar US$12 miliar per tahun dan terus meningkat. Meskipun angka ini signifikan, Indonesia masih sebagian besar mengekspor bahan baku.
Pusat penelitian yang direncanakan diharapkan dapat membantu mengatasi kesenjangan ini. Selain berfungsi sebagai laboratorium, pusat penelitian ini bertujuan untuk mendukung upaya naik ke rantai nilai dari produsen bahan baku menjadi pengembang produk bernilai tambah. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi rumput laut di Nusa Tenggara Barat melebihi 693.
000 ton pada 2023, bernilai sekitar Rp1,65 triliun, dan meningkat menjadi 704.810 ton pada 2024.Secara nasional, Nusa Tenggara Barat masuk dalam lima besar provinsi penghasil rumput laut, dengan Sumbawa, Bima, dan Lombok Timur sebagai wilayah produksi utama.
Teluk Ekas juga telah diidentifikasi sebagai pusat ekonomi biru potensial. Namun, volume produksi yang tinggi belum secara otomatis. Secara umum, hal ini telah diterjemahkan menjadi kemakmuran yang merata.
Tantangan yang terus-menerus adalah ketersediaan bibit berkualitas tinggi yang terbatas.Kantor Urusan Kelautan dan Perikanan Nusa Tenggara Barat mengakui bahwa pasokan bibit yang dibudidayakan secara in vitro masih terbatas dan harus didistribusikan ke beberapa wilayah, termasuk Bali, Nusa Tenggara Timur, dan sebagian Sulawesi. Perubahan iklim telah menambah tekanan, berkontribusi pada penyebaran penyakit ice-ice, yang diperkirakan mengurangi produksi nasional sebesar 10 hingga 20 persen.
Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional sedang mengembangkan bibit tahan panas yang mampu menoleransi kenaikan suhu dua hingga empat derajat Celsius. Namun, sebagian besar pekerjaan ini masih berada pada tahap laboratorium. Selisih tetap ada antara inovasi riset dan implementasi lapangan, karena petani membutuhkan solusi praktis dan skalabel.
Tekanan lingkungan juga muncul di sepanjang wilayah pesisir. Konversi lahan telah meningkatkan erosi dan kekeruhan air. Di beberapa wilayah Lombok, lokasi budidaya terpaksa dipindahkan akibat penurunan kualitas air.
Rumput laut sangat sensitif terhadap sedimentasi dan polutan. Tanpa perencanaan ruang pesisir yang efektif, produktivitas berisiko menurun lebih lanjut. Kondisi ini menyoroti tantangan yang lebih luas.
Meskipun Indonesia memegang posisi dominan di pasar rumput laut tropis global, penguatan industri hilir dan peningkatan ketahanan lingkungan tetap menjadi kunci untuk pertumbuhan berkelanjutan. Didukung oleh kolaborasi internasional dengan institusi seperti Universitas California, Berkeley, dan Beijing Genomics Institute, serta didanai miliaran rupiah, pusat penelitian ini dirancang tidak hanya sebagai fasilitas penelitian—tetapi sebagai laboratorium hidup.Secara ekologi, Teluk Ekas memiliki arus dan sirkulasi air yang relatif menguntungkan, menjadikannya lokasi ideal untuk menguji produktivitas, ketahanan iklim, dan pengembangan biomassa tropis.
Selain Kappaphycus, spesies kunci. Bahan baku untuk karagenan, lokasi ini juga memiliki potensi untuk mengembangkan varietas Caulerpa, Ulva, dan Halymenia, yang memiliki potensi signifikan untuk makanan, farmasi, dan bioplastik.Di tingkat nasional, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menegaskan kembali fokusnya pada industri rumput laut sebagai bagian dari strategi nilai tambah.
Menurut firma riset internasional, pasar rumput laut non-hidrokoloid – seperti biostimulan dan pakan ternak – diperkirakan bernilai US$4,36 miliar pada 2024 dan dapat melonjak menjadi US$12,85 miliar pada 2034. Bank Dunia bahkan memperkirakan bahwa pasar pakan berbasis rumput laut saja dapat mencapai US$6,4 miliar pada tahun 2050. Ini berarti peluang hilir sangat terbuka lebar.
Rumput laut tidak lagi hanya sebagai bahan baku karagenan, tetapi dapat diubah menjadi suplemen nutrisi, kosmetik, pupuk bio, dan kemasan ramah lingkungan. Jika pusat penelitian ini dapat berhasil menghubungkan laboratorium dengan industri, Ekas Bay memiliki potensi. al untuk menjadi pusat ekonomi biru berbasis pengetahuan.
Namun, penelitian tanpa ekosistem bisnis yang mendukung hanya akan berakhir sebagai laporan ilmiah. Tantangan terbesar adalah memastikan bahwa inovasi-inovasi ini benar-benar sampai ke petani dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kerjasama dengan Universitas Mataram dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk dukungan manajemen dan teknologi sangat penting.
Penelitian harus menjawab kebutuhan petani—mulai dari benih berkualitas tinggi dan teknik budidaya adaptif hingga model pemasaran yang memutus siklus pinjaman predator. Selain itu, tata kelola wilayah pesisir juga harus ditingkatkan. Tidak boleh ada degradasi lingkungan di sekitar pusat penelitian.
Pengendalian konversi lahan, rehabilitasi pesisir, dan pemantauan kualitas air merupakan prasyarat esensial. Tanpa itu, bahkan laboratorium terbaik pun akan kesulitan menemukan sampel yang sehat. Ada juga aspek sosial yang tidak boleh diabaikan.
Industrialisasi seringkali menyebabkan modal terkonsentrasi pada segelintir pihak. Pemerintah daerah harus memastikan bahwa kehadiran industri pengolahan dan investor terus mendukung petani lokal. Skema kemitraan kooperatif, adil, dan pembiayaan inklusif harus dirancang sejak dini.
Sangat penting untuk memastikan bahwa pusat riset kelas dunia tidak memperlebar kesenjangan kemakmuran di desa-desa nelayan lokal.Pembangunan pusat penelitian rumput laut di Teluk Ekas mewakili langkah strategis yang sejalan dengan upaya transformasi ekonomi pesisir dan penguatan kedaulatan pangan berbasis maritim. Nusa Tenggara Barat telah membudidayakan rumput laut selama puluhan tahun, dan sejak komoditas ini dimasukkan dalam peta jalan pembangunan nasional pada 2016, produksinya terus meningkat.
Namun, pengalaman menunjukkan bahwa target produksi yang tinggi tidak secara otomatis membawa kemakmuran yang lebih besar atau keberlanjutan jangka panjang. Indonesia kini berupaya menempatkan diri sebagai pusat global untuk rumput laut, tidak hanya dalam hal Volume produksi, inovasi, dan produk bernilai tambah. Untuk mencapai tujuan ini, beberapa aspek kunci memerlukan perhatian yang cermat.
Integrasi antara penelitian dan kebijakan publik sangat penting. Temuan penelitian perlu diimplementasikan ke dalam program praktis, termasuk pelatihan petani, pengendalian kualitas, dan peraturan lisensi. Koordinasi yang efektif dapat memastikan bahwa inovasi ilmiah memberikan manfaat nyata di tingkat komunitas.
Keberlanjutan ekologi harus tetap menjadi landasan pembangunan. Kesehatan ekosistem pesisir secara langsung mempengaruhi produktivitas rumput laut. Melindungi kualitas air, mengelola perencanaan ruang pesisir, dan mengurangi dampak perubahan iklim diperlukan untuk mempertahankan produksi jangka panjang.
Selain itu, inklusi ekonomi bagi komunitas pesisir harus diprioritaskan. Petani dan pemangku kepentingan lokal memainkan peran sentral dalam industri rumput laut, dan kebijakan harus memastikan akses yang adil terhadap teknologi, pembiayaan, dan pasar. Jika elemen-elemen ini dapat diwujudkan, Ekas Bay memiliki potensi tidak hanya sebagai lokasi penelitian, tetapi juga sebagai model bagaimana ilmu pengetahuan, kebijakan, dan pengetahuan lokal dapat bekerja sama untuk mendukung pengembangan pesisir yang berkelanjutan.
Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa pusat penelitian yang direncanakan dapat memberikan manfaat yang dapat diukur, memperkuat industri hilir, dan berkontribusi pada ketahanan ekonomi nasional.