Ekspor Minyak Sawit Mentah Indonesia Melonjak Menjadi $4,69 Miliar

Ekspor Minyak Sawit Mentah Indonesia Melonjak Menjadi $4,69 Miliar

Ekspor Minyak Sawit Mentah Indonesia Melonjak Menjadi $4,69 Miliar

Liga335 – TEMPO.CO, Jakarta – Ekspor minyak sawit mentah (MSM) dan produk turunannya dari Indonesia meningkat signifikan dari US$3,71 miliar menjadi US$4,69 miliar pada Januari–Februari 2026, mencerminkan kenaikan sebesar 26,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, berkat penguatan pengolahan hilir, kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada Kamis.
“Jika kita mengolah CPO menjadi margarin, kosmetik, dan produk turunannya lainnya, dunia akan sangat bergantung pada Indonesia,” kata menteri tersebut di Jakarta.

Amran menekankan bahwa pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan seluruh ekosistem kelapa sawit, mulai dari produksi dan pengolahan hingga pemasaran, guna meningkatkan nilai tambah dan memperkuat perekonomian nasional melalui sektor pertanian.
“Kita menguasai lebih dari 60% pasar global, yang berarti Indonesia memainkan peran yang menentukan. Penguatan pengolahan hilir harus terus dilanjutkan,” tambahnya.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), volume CPO dan turunannya juga meningkat, dari 3,33 juta ton pada Januari–F Februari 2025 menjadi 4,54 juta ton pada periode yang sama di tahun 2026.
Kenaikan ekspor minyak sawit telah berkontribusi terhadap pertumbuhan positif ekspor non-minyak dan gas Indonesia, yang meningkat 2,82% secara tahunan menjadi US$42,35 miliar.
Wakil Kepala BPS Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, mengatakan sektor manufaktur tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekspor non-minyak dan gas, termasuk komoditas berbasis minyak sawit.

“Sektor manufaktur berkontribusi sebesar 5,36% terhadap pertumbuhan ekspor non-migas dari Januari hingga Februari 2026,” jelasnya.
Selain minyak sawit dan turunannya, komoditas lain yang mendorong pertumbuhan ekspor meliputi nikel, kendaraan bermotor, semikonduktor dan komponen elektronik, serta bahan kimia organik yang berasal dari pertanian.
Secara sektoral, ekspor non-minyak dan gas pada Februari 2026 dipimpin oleh manufaktur sebesar US$18,55 miliar, diikuti oleh pertambangan dan sektor lain sebesar US$2,15 miliar, serta pertanian, perikanan, dan kehutanan sebesar US$0,39 miliar, dengan total US$21,09 miliar untuk bulan.

Hartono menambahkan bahwa kinerja yang kuat dari CPO dan turunannya semakin memperkuat posisi komoditas tersebut sebagai pendorong utama pertumbuhan ekspor Indonesia pada awal 2026.