Membangun perisai kesehatan yang tangguh: Memperkuat sistem pengawasan Indonesia dalam rangka kesiapsiagaan darurat

Membangun perisai kesehatan yang tangguh: Memperkuat sistem pengawasan Indonesia dalam rangka kesiapsiagaan darurat

Membangun perisai kesehatan yang tangguh: Memperkuat sistem pengawasan Indonesia dalam rangka kesiapsiagaan darurat

Liga335 – Sistem surveilans yang tangguh merupakan kunci utama dalam kesiapsiagaan darurat kesehatan, karena memungkinkan kita untuk mendeteksi dengan cepat dan memperoleh informasi berharga guna pengambilan keputusan yang tepat. Namun, pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas surveilans yang tidak memadai untuk menangani krisis kesehatan besar. Sistem surveilans Indonesia juga menghadapi tantangan akibat keragaman lebih dari 40 sistem tingkat nasional, yang masing-masing memiliki metode pengumpulan dan pengolahan data yang unik.

Sementara itu, lebih dari 10.000 fasilitas kesehatan, laboratorium, dan kantor kesehatan pelabuhan di seluruh negeri menghasilkan data surveilans, namun analisis komprehensif di tingkat subnasional tetap menjadi tantangan. Hal ini menyoroti kebutuhan untuk mengembangkan rencana transisi yang komprehensif, meningkatkan kemampuan deteksi, mengevaluasi sistem-sistem tersebut, serta menjembatani kesenjangan dalam keterampilan analisis dan pemanfaatan data.

Menyadari keterbatasan yang terungkap selama pandemi, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan WHO pada tahun 2023 mengembangkan rencana transisi untuk memperkuat dan meningkatkan sistem surveilans Indonesia kemampuan pengawasan Sia. Dengan melibatkan para ahli dari berbagai bidang dalam pengembangannya, rencana ini memastikan penerapan pendekatan One Health serta respons yang lebih kolaboratif terhadap pandemi di masa depan. Dilaksanakan sejak akhir tahun 2023, rencana transisi ini diharapkan dapat meningkatkan deteksi dan penilaian risiko, memantau karakteristik epidemiologis patogen, serta memberikan masukan bagi intervensi di bidang kesehatan manusia.

Presentasi studi kasus dari peserta Tim Kerja EID. Kredit: Kementerian Kesehatan/Dr Triya Dinihari Presentasi studi kasus dari peserta Tim Kerja EID. Kredit: Kementerian Kesehatan/Dr Triya Dinihari
Untuk meningkatkan kemampuan deteksi, WHO membantu Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyelenggarakan 18 gelombang pelatihan mengenai Sistem Peringatan Dini dan Tanggap Nasional (EWARS) pada tahun 2023.

Pelatihan ini memungkinkan petugas surveilans dari berbagai puskesmas, Dinas Kesehatan Kabupaten, dan laboratorium kesehatan masyarakat untuk memanfaatkan EWARS, yang memungkinkan pengguna melakukan deteksi dini, penanggapan dini, dan Pemberitahuan dan berbagi data. WHO dan Kementerian Kesehatan juga mengevaluasi EWARS dengan mendiskusikan wawasan dari berbagai respons terhadap wabah serta memperkenalkan teknik-teknik canggih seperti pemantauan media melalui Epidemic Intelligence from Open Source (EIOS). Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya meningkatkan kapasitas staf untuk memberikan respons yang berkualitas dan mendorong kolaborasi antar berbagai sektor.

“Kita perlu maju ke tingkat berikutnya. Kita sudah memiliki ketepatan waktu dan kelengkapan yang baik. Sekarang, kita perlu meningkatkan kualitas respons peringatan untuk menghentikan penularan di sumbernya,” kata Dr Triya Dinihari, Kepala Kelompok Kerja Surveilans Kemenkes, dalam sambutan pembukaannya.

Sesi panel (dari kiri: WHO Indonesia, Kementerian Kesehatan, ASEAN Bio Diaspora Virtual Center, Kemenko PMK) mengenai rencana pengawasan terintegrasi dan kolaboratif. Kredit: Kemenkes/Abuchori
Sementara itu, untuk memastikan 40 sistem tersebut efisien dan mampu mengatasi tantangan yang muncul, Indonesia perlu memiliki sumber daya manusia yang mampu mengatur mengevaluasi sistem-sistem tersebut sejak dini. WHO turut berkontribusi dengan menyelenggarakan pelatihan evaluasi surveilans dalam Konferensi Ilmiah Nasional Epidemiologi ke-10 di Makassar, Sulawesi Selatan, pada tanggal 9 hingga 12 Oktober 2023.

Dalam pelatihan tersebut, WHO menyoroti pedoman yang menekankan perspektif yang lebih luas dalam implementasi.
Menanggapi kebutuhan mendesak akan analisis dan pemanfaatan data, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan WHO, Asosiasi Epidemiologi Indonesia, dan Program Pelatihan Epidemiologi Lapangan (FETP) untuk mengembangkan buku panduan praktis mengenai analisis data surveilans sederhana dan komunikasi yang efektif. Buku panduan yang dikembangkan pada Juni 2023 ini akan digunakan oleh petugas surveilans di seluruh Indonesia.

Inisiatif ini dilanjutkan dengan pelatihan praktis selama dua hari bagi pejabat Kementerian Kesehatan pada Juli 2023. Inisiatif ini mendapat tanggapan positif dari para peserta, yang menyoroti signifikansinya dalam meningkatkan kesiapan dan kapasitas respons Indonesia.
Menurut Sabrina, Petugas Kesehatan Pelabuhan Soekarno-Hatta yang berpartisipasi dalam Melalui pelatihan ini, petugas pengawasan sudah tidak asing lagi dengan analisis data, namun mereka perlu meningkatkan kemampuan dalam menyampaikan data tersebut kepada pembuat kebijakan dan masyarakat.

“Tugas kami adalah menyajikan visualisasi data disertai interpretasi yang kuat. Pelatihan ini menjawab kebutuhan tersebut,” ujarnya.
Pelaksanaan rencana transisi, evaluasi dan pelatihan EWARS, evaluasi sistem surveilans, serta peningkatan analisis dan pemanfaatan data tidak hanya akan meningkatkan ketepatan waktu dan efektivitas respons, tetapi juga memperkuat ketahanan Indonesia terhadap penyakit dan ancaman kesehatan yang muncul.

Pelatihan analisis data untuk staf teknis di Kementerian Kesehatan. Kredit: WHO/Moch. Thoriq Assegaf Al-Ayubi
Komitmen Indonesia untuk memperkuat sistem pengawasannya membuka jalan bagi perbaikan berkelanjutan.

WHO akan terus mendukung Kementerian Kesehatan dalam menyelenggarakan pelatihan EWARS bagi manajer pengawasan dan menyelesaikan buku panduan data pengawasan, yang direncanakan diterbitkan pada tahun 2024 dan akan digunakan dalam pelatihan di masa depan. upaya-upaya tersebut. Kerja sama berkelanjutan dengan kementerian dan mitra terkait, ditambah dengan upaya mempromosikan pengawasan kolaboratif, memastikan negara ini lebih siap menghadapi pandemi di masa depan.

Kegiatan ini didukung sepenuhnya oleh pemerintah Jerman dan Australia.

Ditulis oleh staf WHO Indonesia berikut ini: