Selain kerusakan fisik, banjir juga meninggalkan luka emosional yang mendalam di Aceh, Indonesia
Taruhan bola – Seorang warga desa memindahkan kayu di tengah puing-puing setelah banjir dan tanah longsor melanda Kabupaten Aceh Tamiang di Aceh, Indonesia, 10 Desember 2025. (Foto oleh Gatha Ginting/)
Mengatasi kebutuhan kesehatan mental telah menjadi prioritas di samping rekonstruksi fisik, kata Muhammad MTA, juru bicara pemerintah provinsi Aceh.
oleh Nurul Fitri Ramadhani
JAKARTA, 28 Desember () – Satu bulan setelah banjir bandang dan tanah longsor yang mematikan melanda sebagian besar wilayah Aceh, provinsi paling barat Indonesia, para penyintas di desa-desa yang masih terkepung lumpur dan serpihan kayu masih bergulat dengan trauma yang menurut mereka terasa “lebih dalam, lebih asing dan lebih personal” dibandingkan dengan apa yang mereka alami saat tsunami Samudera Hindia pada tanggal 26 Desember 2004.
Dua puluh satu tahun yang lalu, gempa bumi besar di lepas pantai Sumatra melepaskan gelombang tinggi yang menghancurkan seluruh kota di pesisir pantai, menewaskan sekitar 200.000 orang di provinsi Aceh dan selamanya membentuk kembali sejarah dan jiwa kolektif di wilayah tersebut.
Tsunami masih membekas dalam ingatan masyarakat Aceh dan sekitarnya. orang.
Penduduk desa memindahkan sepeda motor menyeberangi sungai setelah banjir dan tanah longsor melanda Kabupaten Bener Meriah di Aceh, Indonesia, 9 Desember 2025.
(Foto oleh Yulham/)
“Ini tidak seperti tsunami yang hanya menghantam pantai,” kata Sulaiman, 47 tahun, seorang petani dari Kabupaten Aceh Besar, salah satu daerah yang terkena dampak paling parah. “Air ini datang dari langit dan perbukitan, mengalir ke setiap rumah dan sawah. Saya berteriak dan berpikir bahwa semuanya akan berakhir.”
Bagi para penyintas seperti Aini, 62 tahun, trauma yang dirasakannya adalah trauma emosional dan fisik. Dia kehilangan hampir semuanya, rumah, ternak dan kebunnya. “Ketika air naik, saya pikir saya akan mati,” kenangnya dengan suara bergetar saat wawancara telepon dengan .
“Tapi kemudian, ketika air surut, kesunyian semakin terasa. Rasanya seperti tanah itu melupakan kami. Tanah itu benar-benar melupakan kami.”
Penyintas lainnya, Dewi Ulfah, 52 tahun, mengatakan bahwa banjir tersebut terasa lebih dahsyat daripada tsunami, di mana ia kehilangan suami dan putra sulungnya. Pada saat bencana tahun 2004, dia tinggal di daerah kota pesisir Meulaboh sebelum kemudian kembali ke kampung halamannya di Kabupaten Pidie Jaya.
“Saya tidak pernah menyangka akan mengalami momen yang menakutkan seperti ini lagi,” katanya.
“Rasanya seperti tanah mengkhianati saya sekali lagi. Tidak hanya saya, tapi juga seluruh masyarakat Aceh.”
Tidak seperti tsunami, yang melanda secara tiba-tiba dan sebagian besar berdampak pada daerah pesisir, banjir bandang ini menyebar dengan cepat dari perbukitan melewati desa-desa di dataran rendah dan masuk ke kota-kota yang belum pernah mengalami banjir parah sebelumnya.
“Dampaknya juga lebih parah,” kata Ulfah. “Saat tsunami, air surut dengan cepat. Kalau banjir ini, sampai sekarang pun belum sepenuhnya surut, belum lagi lumpurnya yang tebal,” tambahnya, sambil menunjukkan rumahnya yang masih terendam lumpur hampir mencapai atap rumah melalui video call.
Seorang wanita menangis di lokasi bencana di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara, Indonesia, 28 November 2025. (Foto oleh Gatha Ginting/)
Di puluhan kamp pengungsian, luka psikologis masih membekas. Para relawan dan pekerja bantuan yang telah mencapai daerah-daerah yang terisolasi kembali ereka melihat banyak penyintas yang menunjukkan gejala-gejala yang mirip dengan stres pascatrauma, termasuk insomnia, kecemasan, dan kilas balik yang berulang.
“Anak-anak bertanya mengapa hujan menjadi musuh,” kata Rony Alam, seorang sukarelawan dari sebuah organisasi amal yang berbasis di Jakarta. “Ini bukan hanya banjir, tapi juga rasa takut yang merayap. Banyak korban yang selamat mengatakan bahwa bencana ini melebihi rasa takut yang mereka rasakan saat tsunami tahun 2004.”
Beberapa hari setelah bencana, Gubernur Aceh Muzakir Manaf menggambarkan banjir tersebut sebagai “tsunami kedua,” dan menyatakan bahwa kondisi di beberapa daerah masih kritis, dengan beberapa desa yang masih terjebak banjir dan tidak dapat diakses.
“Kami sedih dan patah hati melihat situasi ini,” katanya. “Kami berharap masyarakat Aceh tetap tabah dalam menghadapi tantangan banjir dan tanah longsor.”
Pihak berwenang setempat telah mengakui adanya dampak psikologis jangka panjang dari bencana tersebut. Muhammad MTA, juru bicara pemerintah provinsi Aceh, mengatakan bahwa penanganan kebutuhan kesehatan mental telah menjadi prioritas bersama dengan penanganan kesehatan fisik. rekonstruksi fisik.
“Kami berkoordinasi dengan para tokoh masyarakat dan layanan kesehatan untuk mendukung pemulihan trauma,” katanya. “Pemulihan emosional harus berjalan seiring dengan pembangunan kembali rumah dan infrastruktur.”
Tim penyelamat bekerja di dekat area yang rusak setelah banjir dan tanah longsor di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Indonesia, 28 November 2025.
(Foto oleh Andri Mardiansyah/)
Di Kabupaten Aceh Barat, pemerintah daerah telah memulai program pemulihan trauma, mulai dari terapi bermain untuk anak-anak hingga kelompok dukungan untuk orang dewasa, menyadari bahwa bencana susulan mungkin akan terus berlangsung setelah air surut.
Laporan-laporan lokal menggambarkan bagaimana para korban mencoba untuk menyembuhkan satu sama lain, bercanda dan tetap ceria bahkan ketika mereka menunggu sumbangan kebutuhan dasar seperti pakaian. Tekad mereka tetap kuat, tetapi jeda di antara kalimat-kalimat yang mereka ucapkan sering kali menunjukkan beban yang berat dan tak tergoyahkan.
“Tsunami merenggut banyak nyawa,” kata Ulfah. “Tapi banjir ini merenggut kedamaian kami. Dan kami tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk merasa aman kembali.”